Minggu, 21 Oktober 2012

Hubungan Pupuk Kandang dan NPK Terhadap Bakteri Azotobacter dan Azospirillum dalam Tanah Serta Peran Gulma Untuk Membantu Kesuburan Tanah


        Tanah merupakan faktor lingkungan yang penting, sebab mempunyai hubungan timbal balik yang erat dengan tanaman yang tumbuh di atasnya dan mikroba tanah yang ada di dalamnya. Tanah umumnya mengandung berbagai unsur hara yang diperlukan oleh tanaman. Meskipun demikian kandungan hara pada lahan pertanian semakin lama semakin berkurang karena terserap oleh tanaman untuk memenuhi kebutuhan pertumbuhannya.  Pengambilan hara oleh tanaman dari dalam tanah secara terus-menerus mengakibatkan tanah miskin akan hara, yang mengakibatkan terjadinya degradasi kesuburan tanah, sehingga pertumbuhan dan produktivitas tanaman akan terganggu. Untuk mengatasi keadaan tersebut perlu dilakukan penambahan hara dari luar melalui pemupukan.
            Jenis pupuk yang dapat diberikan untuk menambah unsur hara ada dua macam, yaitu
pupuk organik dan pupuk anorganik. penggunaan pupuk anorganik secara terus-menerus dan berlebihan, tidak diimbangi dengan penggunaan pupuk organic menyebabkan tanah menjadi tandus dan produktivitasnya menurun. Oleh karena itu, perlu diimbangi pemberian pupuk organik agar dapat meningkatkan kandungan hara, baik yang tergolong unsur makro maupun mikro. Pupuk kandang dapat memperbaiki sifat fisik, kimia dan biologi tanah melalui perannya sebagai sumber makanan mikroba di dalam tanah dan meningkatkan jenis dan populasi mikroba sehingga aktivitas mikroba  dalam tanah terus meningkat.
            Tanah berperanan penting dalam siklus mineral terutama yang terdiri siklus nitrogen,
fosfor, sulfur dan siklus karbon. Bakteri yang berperanan dalam siklus nitrogen antara lain
Azotobacter, dan Azospirillum. Bakteri tersebut bersifat non simbiosis yang mampu mengikat N bebas. Bakteri Azotobacter misalnya merupakan bakteri yang hidup di daerah rizhospere yang bersifat heterotrofik. Bakteri ini berfungsi sebagai pengikat N  bebas yang mempunyai pengaruh terhadap sifat fisik dan kimia tanah sehingga mampu meningkatkan kesuburan tanah. Populasi bakteri nitrifikasi dalam tanah akan mempengaruhi rasio konsentrasi nitrogen dalam tanah, sehingga populasi mikroba merupakan indikator tingkat kesuburan tanah. Penggunaan pupuk kandang mampu meningkatkan kesuburan tanah jangka waktu yang panjang.
                Azotobacter merupakan bakteri pemfiksasi nitrogen heterotrof yang hidup bebas dan banyak ditemukan pada tanah yang asam menuju netral. Pemupukan dengan NPK dapat meningkatkan Azotobacter, tetapi apabila dilakukan pemupukan dengan pupuk anorganik secara terus-menerus akan menurunkan tingkat kesuburan tanah, karena unsur K merupakan salah satu unsur hara yang mudah tercuci, sehingga tanah akan kekurangan unsur K yang dapat menurunkan kesuburan tanah. Azotobacter mempunyai pengaruh yang menguntungkan dalam tingkat perkembangan biji, pertumbuhan tanaman, tegakan tanaman dan pertumbuhan vegetatif. Sehingga dengan peningkatan Azotobacter, dapat meningkatkan hasil tanaman budidaya.
            Azospirillum merupakan bakteri yang bersifat simbiosis asosiatif untuk menyebutkan adanya pemfiksasi nitrogen dalam tanaman. Bakteri Azospirillum membutuhkan kondisi oksigen rendah, dan dapat tumbuh cepat pada lingkungan yang mengandung amonium tanpa memfiksasi nitrogen. Azospirillum merupakan bakteri yang dapat mendorong pertumbuhan berbagai jenis tanaman, dimana kemampuan yang menguntungkan ini karena kemampuannya menghasilkan fitohormon, termasuk giberelin
            Pemberian pupuk kandang dapat meningkatkan kandungan amonium dalam tanah sehingga didapatkan populasi Azospirillum yang tinggi dibandingkan dengan perlakuan pupuk NPK dan tanpa perlakuan. Hal ini membuktikan bahwa pemberian pupuk kandang dapat meningkatkan populasi bakteri dalam tanah. Diharapkan dapat meningkatkan kesuburan tanah dalam waktu yang cukup panjang. Dengan kesuburan tanah, ketersediaan hara cukup untuk tanaman yang tumbuh di atasnya, sehingga dapat meningkatkan hasil panen.
            Pertukaran kation atau sifat pertukaran basa dalam tanah menentukan kesuburan tanah dan juga nutrisi tanaman. Kation yang dapat dipertukarkan adalah hidrogen, kalsium, magnesium, kalium, natrium, amonium, mangan, seng, tembaga dan alumunium. Ion-ion ini memiliki kandungan energi berbeda yang menentukan pengikatan dengan bahan tanah yang padat. Energi tersebut juga menentukan kemudahan ion-ion untuk saling mengadakan pertukaran ion dalam tanah. Sifat pertukaran basa dalam tanah memungkinkan ion tersebut terikat dan siap untuk nutrisi tanaman, dan sekaligus mencegah nutrisi itu agar tidak terlarut.
            KTK sangat penting untuk diketahui karena mampu memberikan kriteria kesuburan tanah, semakin tinggi KTK maka semakin tinggi pula tingkat kesuburan tanah dalam jangka panjang Ion-ion yang ada dalam tanah ada yang bermuatan positif dikenal sebagai kation (K+, Mg++, Ca++, Fe+++, Mn++, Zn++ dan Cu++) dan ada yang bermuatan negatif yang dikenal sebagai anion (NO3-, H2PO4-, SO4-, Cl-, HB4O7 dan HmoO4-) Ion dalam tanah selalu mengalir karena adanya penyerapan ion oleh akar tanaman dan terjadi pelepasan ion dari tanah. Pemindahan ion ke perakaran meliputi pertukaran ion antara akar dan larutan tanah. Misalnya ion H4- dibebaskan ke larutan tanah, oleh perakaran diganti kation. Demikian pula anion diserap oleh akar dengan menukar ion OH- dan HCO3-+. KTK dengan pemberian pupuk kandang paling tinggi sangat berpengaruh dengan Penyediaan hara dalam tanah jangka panjang.
            Bahan organik tanah merupakan sumber potensial dari nitrogen, pospor dan sulfur untuk pertumbuhan tanaman. Mikrobiologi merupakan pengurai bahan organik mampu melepaskan ikatan nutrien dari bahan organik sehingga menjadi bentuk yang dapat dimanfaatkan oleh tumbuhan. Peningkatan bahan organik tanah karena pemberian pupuk kandang dapat mengatur kelembaban dan aerasi, pemantap struktur tanah, meningkatkan KTK, sebagai sumber hara bagi tanaman dan sebagai sumber energi bagi aktivitas jasad mikro.   
                Pemberian pupuk NPK mensuplai nitrogen, pospor dan kalium secara langsung ke tanah. Dari ketiga unsur tersebut, nitrogen mempunyai peranan yang menonjol dalam peningkatan produksi. Semakin tinggi pemupukan nitrogen semakin tinggi kandungan klorofil daun, ini disebabkan karena nitrogen merupakan komponen penting dari klorofil yang memberikan warna hijau pada daun, yang diperlukan dalam proses fotosintesis. Proses fotosintesis meningkat, maka hasil juga meningkat. nitrogen merupakan unsur yang dibutuhkan tanaman dalam jumlah yang tinggi setelah unsure hidrogen, karbon dan oksigen sebagai bahan penyusun tubuh tumbuhan. Kandungan nitrogen umumnya rendah dan dinamis sehingga penting diketahui dalam bentuk yang tersedia serta kecukupan jumlahnya
            Meskipun produksi dengan pemberian pupuk NPK mampu meningkatkan produksi  tetapi dengan pemberian pupuk anorganik secara terus menerus dapat menyebabkan terjadinya kemunduran produktivitas tanah baik kimia, fisika maupun biologi tanah. Sedangkan dengan pupuk kandang mampu meningkatkan jumlah populasi  Azospirillum dan menyumbang jasad renik ke dalam tanah. Bakteri Azospirillum, dapat membantu dalam mengefisiensi penggunaan pupuk nitrogen. Selain itu Azotobacter dan Azospirillum juga mempunyai kemampuan memproduksi hormon tumbuh yang berguna untuk pertumbuhan akar sehingga meningkatkan pertumbuhan.
            Pupuk kandang merupakan salah satu komponen budidaya tanaman yang ramah lingkungan serta mempunyai peranan dalam memperbaiki kesuburan tanah struktur tanah baik secara fisik, kimia atau biologi. Pupuk kandang mempunyai peranan meningkatkan kesuburan fisik tanah karena mampu mengurangi plastisitas, meningkatkan agregat ruang pori, ketersediaan air dan kelekatan juga aerasi tanah. Sedangkan peranan dalam kesuburan kimia yaitu mengikat atau menyerap ion lebih besar juga meningkatkan kation. Dalam kesuburan biologi pupuk kandang membentuk jaringan tubuh mikroorganisme dan sumber energi bagi mikroorganisme tanah. Pupuk kandang juga mampu meningkatkan efisiensi pemakaian pupuk.
            Gulma merupakan tumbuhan yang merugikan dan tumbuh pada tempat yang tidak dikehendaki. Karena sifat merugikan tersebut, maka di mana pun gulma tumbuh selalu dicabut, disiang, dan bahkan dibakar. Sebenarnya bila  dikelola dengan benar dan optimal, gulma akan memberikan manfaat dan meningkatkan produktivitas lahan. gulma jenis rumput seperti akar wangi (Vetivera zizanoides) dapat digunakan untuk konservasi tanah, dan daun yang muda untuk pakan ternak. sisa penyiangan gulma dapat menjadi media penyimpan unsur hara. Di samping itu, beberapa jenis gulma dapat dimanfaatkan sebagai mulsa atau untuk membuat kompos dengan status ketersediaan hara sedang sampai tinggi yang kandungan N, P, dan K pada gulma jenis rumput V. zizanoides masing-masing sebesar 1,23; 0,13; dan 2,43%. Berdasarkan kenyataan ini, pengelolaan gulma perlu diarahkan agar gulma tidak selalu diasumsikan dapat menurunkan dan merugikan produktivitas lahan, tetapi di sisi lain dapat memberikan nilai tambah dan keuntungan bagi beberapa aktivitas makhluk hidup.
            Gulma berdaun lebar yang dominan, seperti Ageratum conyzoides, Heptis brevipis, Pistia stratiotes, dan Polygonom barbatum mempunyai kandungan N, P, dan K yang cukup tinggi, yaitu masing-masing (2,60%, 0,33%, 1,03%); (2,69%, 0,23%, 1,08%); (2,67%, 0,30%, 1,12%); dan (2,74%, 0,24%, 1,22%). Kandungan N, P, dan K dari gulma berdaun lebar ini lebih tinggi dibandingkan dengan kandungan N, P, dan K pupuk organic. bila rasio C/N bahan organik rendah, maka proses dekomposisi bahan organik berlangsung cepat, sebaliknya bila rasio C/N tinggi, maka proses dekomposisi bahan organik berjalan lambat. Rasio C/N gulma berdaun lebar berkisar antara 16,09-24,79%, lebih rendah dibandingkan dengan rasio C/N jerami padi yaitu 40,83%, kompos jerami padi 26,19%, dan jerami jagung 62,59%. Hal ini menunjukkan bahwa gulma dominan dari golongan berdaun lebar, selain sebagai sumber hara juga berpotensi sebagai sumber bahan organik. Gulma dominan berdaun lebar Ipomea aquatica dan Cyperus distans dari golongan teki, walaupun rasio C/N cukup tinggi. yaitu masing-masing 24,72% dan 37.91%, namun mempunyai kandungan hara K yang cukup tinggi yaitu masing-masing 3% dan 2,58%. Kandungan hara K ini lebih tinggi dibandingkan dengan kandungan hara K pada kotoran sapi, kotoran ayam, kompos jerami padi, Sesbania sp. dan Flemingia sp., yaitu masing-masing 1,03%, 2,46%, 0,91%, 2,75%, 1,45%. Salah satu fungsi unsur hara K adalah untuk mengatasi keracunan besi. Oleh karena itu, gulma ini mempunyai potensi sebagai suplemen unsur hara K.
            Golongan rumput Sacciolepis interupta mempunyai kandungan N 2,79%, lebih tinggi dibandingkan dengan pupuk organik seperti kompos jerami padi, berangkasan kacang tanah, dan Flemegia sp., yaitu masing-masing 0,84%, 2,37%, 2,42%, serta mempunyai rasio C/N yang lebih rendah. Hal ini menunjukkan bahwa gulma ini berpotensi sebagai suplemen unsur hara N. Untuk mempercepat proses dekomposisi gulma yang berpotensi sebagai suplemen unsur hara N, P, dan K, sebaiknya gulma tersebut diberikan dekomposer atau mikroorganisme perombak bahan organik.

sumber :
Supriyadi, M.2009 Pengaruh Pupuk Kandang Dan NPK Terhadap Populasi Bakteri Azotobacter Dan Azospirillum Dalam Tanah Pada Budidaya Cabai (Capsicum Annum). Surakarta. www.biosains.mipa.uns.ac.id.

Haryatun. 2005. Teknik Identifikasi Jenis Gulma Dominan Dan Status Ketersedlaan Hara Nitrogen, Fosfor, Dan Kalium Beberapa Jenis Gulma Di Lahan Rawa Lebak. Kalimantan Selatan. www.pustaka.litbang.deptan.go.id.

 
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar